Wabah Obesitas Pada Anak dan Remaja

Wabah Obesitas Pada Anak dan Remaja

Obesitas biasanya dikaitkan dengan “kemakmuran tapi, dari sisi kesehatan, kondisi ini perlu perhatian serius karena sangat merugikan. Obesitas dapat menimbulkan penyakit kronis, seperti sindrom metabolik, diabetes, hipertensi, stroke, dan kardiovaskuler.

Obesitas adalah penimbunan jaringan lemak secara berlebihan, akibat ketidak seimbangan antara asupan energi dengan pemakaian energi. Untuk mengatakan seseorang mengalami obesitas, di samping dilihat dari gejala klinis, juga harus didukung dengan pemeriksaan antropometri (fisik).Pemeriksaan fisik, meliputi perimbangan berat terhadap tinggi badan, berat terhadap umur, dan tebalnya lipatan kulit (paling sedikit perbandingannya 10% di atas nilai normal).

obesitas pada anak

NEW WORLD SYNDROME

Obesitas dianggap sebagai penyebab munculnya penyakit noninfeksi, yang sekarang banyak terjadi di negara maju maupun negara berkembang. Fenomena ini sering diberi nama Sindrom Dunia Baru (NEW WORLD SYNDROME). Sindrom ini telah menimbulkan beban sosial-ekonomi serta kesehatan masyarakat sangat besar di negara berkembang,termasuk Indonesia.

Sindrom Dunia Baru bertanggungjawab terhadap tingginya morbiditas dan mortalitas di negara-negara yang baru saja mencapai kategori negara maju, termasuk negara-negara Eropa Timur. Modernisasi dan pasar global dirasakan di sebagian besar negara berkembang telah memberikan kepada masyarakat beberapa kemajuan dalam standar kehidupan dan pelayanan yang tersedia.Namun, modernisasi juga membawa beberapa konsekuensi negatif, yang secara langsung atau tidak langsung, telah mengarahkan terjadinya penyimpangan pola makan dan aktivitas fisik, yang berperanan penting terhadap munculnya obesitas.

Saat ini, satu hal yang menjadi perhatian utama para ahli nutrisi adalah bagaimana menyelaraskan asupan energi dan kebutuhan tubuh. Obesitas sebagai penyakit kronik, banyak ditemukan baik di negara maju maupun di negara berkembang.Menyerang semua lapisan, baik anak-anak maupun orang dewasa.Adanya peningkatan junnlah penduduk yang menderita obesitas di hampir seluruh negara di dunia, maka masalah obesitas kini merupakan masalah global.Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 1998 bahkan menyebutnya sebagai wabah global (the global epidemic).

 

WABAH OBESITAS MENGANCAM ANAK & REMAJA

Masalah kelebihan berat tidak hanya ditemukan pada penduduk dewasa, tetapi juga pada remaja dan anak-anak. Meski data tentang obesitas di Indonesia belum bisa menggambarkan prevalensi obesitas seluruh penduduk.Tetapi data obesitas pada orang dewasa yang tinggal di ibukota propinsi di seluruh Indonesia cukup mengejutkan.

Hasil survei nasional di ibukota propinsi pada 1996/1997 menunjukkan, 8,1% penduduk laki-laki dewasa (>=18 tahun) mengalami overweight (BMI 25-27), dan 6,8% mengalami obesitas; sebanyak 10,5% penduduk wanita dewasa mengalami overweight, dan 13,5% obesitas.

Pada kelompok umur 40-49 tahun, kelebihan berat badan maupun obesitas mencapai puncaknya, masing-masing 24,4% dan 23% pada laki-laki dan 30,4% dan 43% pada wanita (Depkes, 2003).

Sampai sekarang belum ada data nasional tentang obesitas pada anak sekolah dan remaja.Tetapi beberapa survei di beberapa kota besar menunjukkan, prevalensi obesitas pada anak sekolah dan remaja cukup tinggi. Di Yogyakarta (1999), prevalensi obesitas pada anak SD mencapai 9,7%; sementara di Denpasar (2002) sebesar 15,8%.

TANDA OBESITAS & GEJALANYA OBESITAS PADA ANAK

Terdapat beberapa tanda yang dapat membantu menentukan seorang anak memiliki risiko obesitas.Tanda tersebut meliputi :

  • Riwayat obesitas pada keluarga.
  • Riwayat penyakit akibat obesitas pada keluarga, seperti kardiovaskuler, kolesterol tinggi,tekanan darah tinggi,dan diabetes tipe 2.
  • Riwayat merokok pada keluarga
  • Pola perilaku sedentari (seperti, terlalu banyak menonton televisi) dan rendahnya aktivitas fisik.
  • Tanda-tanda penyakit akibat obesitas meliputi:

a. Faktor risiko kardiak. Penelitian pada anak-anak obesitas menunjukkan tekanan darah rata-rata, detak jantung, dan output kardiak lebih tinggi ketika dibandingkan dengan anak-anak tidak menderita obesitas.

b. Faktor risiko Diabetes tipe 2. Ink’ meliputi intoleransi glukosa dan konsentrasi insulin yang lebih tinggi daripada rata-rata.

c. Gangguan Ortopedik. Beberapa simtom,termasuk tekanan berat tubuh pada sendi organ bagian bawah, tibial torsion dan kaki melengkung, serta slipped capital femoral epiphysis (terutama, pada laki-laki).

d. Gangguan pada kulit, seperti ruam panas, intertrigo, monilial dermatitis, dan acanthosis nigricans.

e. Mengalami masalah psikiatrik/ psikologis. Rendahnya percaya diri,depresi,dan menjauhkan diri dari teman sebaya dapat menyebabkan obesitas

FAKTOR RISIKO MENGALAMI OBESITAS

Seseorang mendapatkan penambahan berat badan ketika input energi melebihi output energi. Input energi adalah makanan. Beberapa penelitian menunjukkan, rata-rata anak-anak obesitas tidak menghabiskan kalori lebih besar secara signifikan daripada teman sebayanya yang ramping. Output energi terdiri dari angka metabolik basal, efek thermal makanan, dan aktivitas.

Efek thermal makanan adalah energi yang dibutuhkan untuk menyerap dan mencerna makanan. Dari variabel ini, aktivitas fisik tidak dipengaruhi faktor genetik, dan karenanya aktivitas fisik sangat mungkin dapat berubah.

Dulu, obesitas dianggap identik dengan tingkat sosial ekonomi yang baik. Kini, di kalangan kedokteran, obesitas dianggap sebagai suatu penyakit. Obesitas, terutama obesitas central, biasanya disertai beberapa keadaan komorbid,seperti diabetes mellitus tipe 2, penyakit kardiovaskuler, osteoartritis, dan beberapa jenis penyakit yang ganas.

Berat badan dan komposisi tubuh manusia ditentukan interaksi yang kompleks antara faktor genetik, lingkungan, dan psikologis.

a). Faktor genetik

Obesitas cenderung diturunkan dalam keluarga.lni menandakan adanya hubungan antara genetik dan obesitas.Selain kebiasaan gaya hidup, pola makan dalam keluarga juga bisa memberikan kontribusi pada obesitas. Pada sebuah penelitian, orang dewasa yang diadopsi semenjak kecil ditemukan memiliki berat badan mendekati orangtua biologisnya daripada orangtua adopsinya. Dalam kasus ini,genetika memiliki pengaruh lebih besar daripada lingkungan keluarga yang mengadopsi.

b).Faktor lingkungan

Bukan hanya gen, lingkungan juga berpengaruh kuat terhadap obesitas. Ini meliputi gaya hidup, dan kebiasaan, seperti bagaimana seorang anak makan dan aktivitas fisik apa yang dilakukannya. Misalnya, orang Amerika cenderung makan makanan berkadar lemak tinggi, dan lebih mementingkan rasa dan kesenangan melebihi nutrisi. lni diperburuk dengan kemajuan teknologi yang membuat berbagai aktivitas menjadi serba mudah. Misalnya, seseorang tidak perlu lagi naik tangga, tetapi cukup memencet tombol lift, maka yang bersangkutan akan sampai ke lantai diinginkan.

Di samping itu, seperti dilaporkan Reuters Health, 25 Oktober 2005, ada sejumlah faktor yang berkontribusi pada meningkatnya obesitas, di antaranya kegemaran anak-anak menonton TV. Menonton TV telah menggantikan aktivitas fisik. yang biasa dilakukan anak-anak, dan banyak di antara mereka menonton TV sambil mengonsumsi junk food.

Dr. Russell M.Viner dari Middlesex Hospital dan Dr.Tim J Cole dari University College, keduanya di London, menemukan, setiap tambahan satu jam menyaksikan TV di akhir pekan pada anak usia 5 tahun akan meningkatkan peluang obesitas sebanyak 7% ketika berumur 30 tahun.

c). Faktor psikologi

Banyak anak-anak makan untuk merespon emosi negatif,seperti kebosanan, kesedihan, dan kemarahan. Kebanyakan orang dengan berat badan berlebih tidak lagi memiliki masalah-masalah psikologi daripada mereka dengan berat badan rata-rata.

POLA MAKAN DAN AKTIVITAS FISIK

Faktor pola makan dan pola aktivitas fisik mempunyai pengaruh kuat terhadap keseimbangan energi, dan dapat dikatakan sebagai faktor utama yang bisa dimodifikasi (modifiable factors). Melalui faktor-faktor tersebut, banyak faktor luar tubuh yang dapat memicu pertambahan berat badan. Lebih jelasnya, diet tinggi lemak dan tinggi kalori dan pola hidup kurang gerak (sedentary lifestyles) adalah dua karakteristik sangat berkaitan dengan peningkatan prevalensi obesitas di seluruh dunia.

Beberapa data cross-sectional menunjukkan adanya hubungan negatif antara BMI dan aktivitas fisik (Rising and Friends 1994; Schulz & Schoeler, 1994), yang menunjukkan orang obesitas atau gemuk mempunyai aktivitas fisik yang kurang dibandingkan orang-orang ramping. Beberapa hasil studi menunjukkan, rendahnya dan menurunnya aktivitas fisik merupakan faktor paling bertanggungjawab terjadinya obesitas. Obesitas, misalnya, tidak terjadi pada atlit yang aktif, sedangkan atlit yang berhenti melakukan latihan olahraga lebih sering mengalami kenaikan berat badan dan kegemukan.Lebih lanjut, kecenderungan sekuler (secular trend) dalam kenaikan prevalensi obesitas paralel dengan penurunan aktivitas fisik dan peningkatan perilaku hidup kurang gerak atau sedentary lifestyle.

Salah satu studi paling baik yang menyokong hipothesis ini adalah yang dikemukakan Prentice & Jebb (Prentice &Jebb,1995).Penelitian tersebut menilai faktor yang berkontribusi pada ketidakaktifan seseorang, seperti jumlah waktu digunakan untuk menonton televisi atau jumlah mobil per keluarga. Penelitian menunjukkan, penurunan aktivitas fisik dan atau peningkatan perilaku hidup sedentari mempunyai peranan penting dalam peningkatan berat badan, dan terjadinya obesitas.

Pada sebuah studi di tahun 2003, yang melibatkan 4.747 siswa/ siswi SLTP Kota Yogyakarta dan 4.602 siswa/siswi SLTP Kabupaten Bantul, ditemukan sebanyak 7,8% remaja Yogyakarta dan 2% remaja Bantul mengalami obesitas. Rata-rata asupan energi anak obesitas di kota Yogyakarta adalah 2818,3 ± 499,4 kkal/hari, sedangkan rata-rata asupan energi remaja nonobesitas adalah 2210,4 ±329,8 kkal/hari. Dengan kata lain, asupan energi remaja obesitas adalah 607,9 kkal/ hari lebih tinggi dibandingkan remaja nonobesitas.Yang menarik, remaja obesitas 2-3 kali lebih sering mengonsumsi fast food seperti Mac Donald, Kentucky Fried Chicken, Pizza, dan lain sebagainya. Remaja obesitas mempunyai waktu menonton TV lebih lama dibandingkan remaja nonobesitas (3,14 ±1,56 jam/hari banding 2,62 ± 1,67 jam/hari). Remaja obesitas mempunyai waktu untuk aktivitas ringan, seperti baca buku, duduk-duduk, main playstasion lebih panjang (12,20 ± 1,94 jam/ hari banding 11,36± 1,76 jam/hr) dibandingkan remaja nonobesitas.

Sebaliknya, remaja obesitas mempunyai waktu untuk melakukan aktivitas sedang atau berat, seperti naik sepeda, main sepak bola, bola basket, dan sebagainya lebih pendek dibandingkan remaja nonobesitas.

Dalam analisis lebih lanjut ditemukan:

  • remaja dengan asupan energi normal (<2.200 kkal/ hari), tetapi nonton TV >=3 jam/ hari mempunyai risiko obesitas 2,7 kali lebih tinggi dibandingkan remaja dengan asupan energi normal <2,200 kkal/hari dan waktu nonton TV <3 jam/hari.
  • Remaja dengan asupan energi tinggi (>=2,200 kkal/ hari) dan mempunyai waktu nonton TV >= 3 jam/hari mempunyai risiko menderita obesitas 12,3 kali lebih tinggi dibandingkan remaja dengan asupan energi <2.200 kkal/hari dan waktu nonton TV <3 jam/hari. Studi ini menunjukkan adanya interaksi bersifat additif, multiplikatif antara gaya hidup sedentarian dan diet tinggi kalori.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *